“Eh, jangan pegang-pegang, bukan muhrim!” Sebuah ungkapan yang mungkin tidak asing di telinga kita. Akan tetapi, yang menjadi pertanyaan adalah benarkah pernyataan pria tersebut?

Mahram atau Muhrim?

Dua kata ini berbeda makna. Mahram adalah semua orang yang haram untuk dinikahi  karena sebab nasab, persusuan, dan pernikahan. Adapun muhrim adalah orang yang sedang melakukan ihram dalam haji atau umrah. Pembahasan tentang mahram sangat penting sebab berkaitan dengan mu’amalah kita sehari-hari sebagai muslimah dengan orang lain. Misalnya tentang menutup aurat, sebagaimana telah dibahas pada edisi Zuhairah sebelumnya pada bahasan jilbab. Tujuan memakai jilbab adalah menutup aurat kita dari non mahram. Siapa sajakah nonmahram? Kita perlu tahu itu.

Mahram di sini terbagi menjadi dua macam: [1] mahram muabbad, artinya tidak boleh dinikahi selamanya; dan [2] mahram muaqqat, artinya tidak boleh dinikahi pada kondisi tertentu saja dan jika kondisi ini hilang maka menjadi halal.

Mahram adalah semua orang yang haram untuk dinikahi  karena sebab nasab, persusuan, dan pernikahan. 

Sebab-Sebab Seseorang Menjadi Mahram Muabbad

Secara garis besar ada tiga sebab yaitu: karena 1) nasab/hubungan darah, 2) ar-ridhā’u (persusuan), dan 3) mushāharah/pernikahan. Pada bahasan ini, akan dikhususkan pada mahram karena ar-ridhā’u (persusuan).

Definisi Ar-Radhā’

Menyusui yang dalam bahasa Arab “ar-ridhā’u”, secara bahasa adalah mengisap susu dari puting susu baik itu dari binatang maupun dari manusia. Menurut syari’at adalah mengisap susu dari puting susu, atau meminumnya, dan semacamnya.

boygirl

Syarat Penyusuan yang Menyebabkan Mahram

Di antara syarat penyusuan yang menyebabkan mahram ada tiga:

  1. Penyusuan harus dari manusia. Maksudnya, apabila ada dua anak menyusu (meminum susu domba) pada satu domba yang sama, tidak lantas dua anak ini menjadi bersaudara.

Jika terdapat pertanyaan; “Apakah disyaratkan anak itu harus menyusu secara langsung pada puting susu ibu atau tidak disyaratkan?” maka jawabannya, “Seandainya dia memeras susunya dalam suatu wadah, maka ini tetap berpengaruh karena maksudnya adalah bahwa anak ini mendapatkan asupan susu dari wanita ini baik menyusu dari puting susunya secara langsung ataupun tidak”.

  1. Jumlah susuan harus lima kali. Dalil yang menyatakan hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anha, “Dulu di antara ketentuan yang diturunkan dalam al-Qur`an adalah sepuluh susuan yang lazim diketahui menjadikan haram (menjadikan mahram_red), lalu dihapus dengan lima susuan yang lazim diketahui, kemudian Rasulullah shallāllāhu’alayhi wasallam wafat, dan itu termasuk yang dibacakan dari al-Qur`an” (HR. Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, dan Malik – shahih).

Tentang jumlah susuan ini diperselisihkan oleh para ulama. Ada yang berpendapat satu kali susuan, ada yang berpendapat tiga kali susuan, namun lima kali susuan adalah pendapat yang lebih tepat -sesuai dalil- di antara pendapat-pendapat yang lain, sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin dalam kitabnya Shahih Fiqih Wanita.

  1. Susuan itu terjadi sebelum dipisah (dihentikan susuannya) –sebelum umur anak dua tahun—  atau istilah jawa-nya “disapih”. Susuan tidak berpengaruh kecuali sebelum pemisahan (anak dari penyusuan) sehingga susuan di atas usia dua tahun sudah tidak bisa menjadikan mahram, sebagaimana hadits yang diriwayatkan Imam Tirmidzi dengan sanad yang shahih dari Ummu Salamah radhiyallāhu ‘anha, beliau menuturkan bahwa Nabi shallāllāhu’alayhi wasallam bersabda, “Persusuan itu tidak bisa menyebabkan mahram kecuali persusuan yang mengenyangkan perut dan ini terjadi sebelum waktu penyapihan.”

Kisah Sahlah dan Salim

Beberapa ulama berpendapat bahwa persusuan itu tetap sah baik dilakukan pada anak yang masih kecil maupun yang sudah besar. Pernyataan ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anha.

Beliau bercerita bahwa Sahlah binti Suhail menemui Nabi shallāllāhu’alayhi wasallam dan mengatakann, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya melihat ketidaksukaan pada wajah Abu Hudzaifah lantaran Salim sering masuk rumahnya. Salim adalah anak angkat Abu Hudzaifah.”

Nabi shallāllāhu ’alayhi wasallam bersabda, “Susuilah dia!” Sahlah bertanya, “Bagaimana saya menyusuinya sedangkan dia sudah besar?” Rasulullah shallāllāhu ’alayhi wasallam pun tersenyum dan mengatakan, “Ternyata engkau telah mengetahui bahwa dia sudah besar.” Sekelompok ulama ini juga berargumen dengan keumuman firman Allah Ta‘ālā yang artinya, “Diharamkan atas kalian ibu-ibu kalian yang telah menyusui kalian,” (QS. An-Nisā’: 23).

Jumhur ulama membantah kisah Sahlah dan Salim itu. Mereka mengatakan bahwa kisah itu hanya khusus berlaku untuk kasus Sahlah dan Salim. Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa kisah di atas telah mansukh (hukumnya telah dihapuskan). Di antara ulama ada juga yang berpendapat bahwa kasus Sahlah dengan Salim itu berlaku bagi orang yang khususnya sama dengan kasus mereka. Pernyataan jumhur ulama diperkuat dan dipertegas dengan sabda Nabi shallāllāhu ’alayhi wasallam, “Persusuan yang sah itu dilakukan sebelum masa penyapihan.” Wallāhu Ta‘ālā a’lam.

Konsekuensi dari Persusuan

Ketika seorang anak menyusu kepada seorang ibu, maka konsekuensinya terjadi hubungan mahramiyyah/diharamkan menikah (sesuai persyaratan persusuan yang memahramkan). Konsekuensi lainnya adalah dibolehkannya berduaan, menjadikan teman safar, dan dibolehkan memandang. Akan tetapi, hukum ibu tidak berlaku padanya dari segala sisi, artinya hanya hal-hal tersebut (sebatas sebagai ibu susu saja).

Keduanya tidak bisa saling mewarisi, saling memberi nafkah, persusuan tidak menjadikan merdeka -jika ia budak dari wanita yang menyusuinya-, persaksian anak terhadap ibu susuannya diterima, keduanya tidak ada hubungan dalam masalah diyat -anak susuan tidak ada kewajiban membayar diyat untuk ibunya jika membunuh-, dan jika ibu susuan membunuh anak susuannya, hukum qishas tetap ditegakkan. Jadi berkaitan dengan hukum-hukum seperti itu, anak susuan dengan wanita yang telah menyusuinya itu seperti wanita ajnabi (bukan mahram).

Mahram Muabbad karena Persusuan

1) Bapak persusuan (suami ibu susu), termasuk mahram juga kakek persusuan yaitu bapak dari bapak atau ibu persusuan, juga bapak-bapak mereka ke atas. Dari ‘Aisyah radhiyallāhu ‘anha, beliau berkata, “Sesungguhnya Aflah saudara laki-laki Abi Qu’ais meminta izin untuk menemui saya setelah turun ayat hijab, maka saya berkata, ‘Demi Allah, saya tidak akan memberi izin kepadamu sebelum saya minta izin kepada Rasulullah, karena yang menyusui saya bukan saudara Abi Qu’ais, tetapi yang menyusui saya adalah istri Abi Qu’ais.’

Maka tatkala Rasulullah datang, saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya (istri) lelaki tersebut bukanlah yang menyusui saya, akan tetapi yang menyusui saya adalah istri saudaranya.’ Maka Rasulullah bersabda, ‘Izinkan baginya, karena dia adalah pamanmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

2) Anak laki-laki dari ibu susu, termasuk anak susu adalah cucu dari anak susu baik laki-laki maupun perempuan dan juga anak keturunan mereka.

3) Saudara laki-laki sepersusuan, baik dia saudara susu kandung, sebapak (misalnya bapak punya istri lebih dari satu) maupun cuma seibu.

4) Kemenakan persusuan (anak saudara persusuan), baik anak saudara persusuan laki-laki maupun perempuan dan juga keturunan mereka.

5) Paman persusuan (saudara laki-laki bapak atau ibu susu)

Lain-Lain

Jika terdapat pertanyaan: seseorang memiliki dua orang istri, salah satu istrinya menyusui anak laki-laki dan yang lain menyusui anak perempuan, apakah anak laki-laki tersebut boleh menikah dengan anak perempuan tersebut?

Ibnu ‘Abbas menjawab, “Tidak boleh, karena air maninya berasal dari sumber yang sama.” -mereka satu ayah, walaupun beda ibu susu- ini adalah penjelasan tentang labanul fahl dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitab al-Muwaththa’ dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu’anhu.

Apabila seorang ibu ragu-ragu tentang jumlah susuannya, maka hal itu belum dapat menjadikan mahram, sebagaimana dijelaskan Ibnu Qudamah rahimahullāh dalam al-Mughni. Pada kasus lain, Imam Syafi’i rahimahullāh dalam kitab al-Umm saat menjawab pertanyaan mengenai seorang gadis yang menyusui, beliau berkata:

“Seandainya ada gadis yang belum pernah menikah (jima’) atau seorang janda yang belum pernah hamil, namun ternyata keduannya mengeluarkan air susu, kemudian air susu tersebut ditetekkan kepada seorang bayi sebanyak lima kali susuan, maka anak yang disusui secara otomatis menjadi anak (susuan) wanita tersebut, tanpa bapak susuan. Anak itu tidak sama dengan anak zina. Hal ini terjadi karena susu yang digunakan untuk menyusui anak itu tidaklah keluar karena wanita itu digauli oleh laki-laki/jima’.

Bagaimana jika sepasang suami-istri mendapat kabar bahwa mereka berdua dahulu disusui oleh seorang ibu yang sama? Jawabannya adalah mereka harus segera bercerai. Keputusan ini diambil apabila ibu susu yang mengabarkan adalah orang Islam yang bisa dipercaya (tidak fasik) dan kemungkinan besar hal itu memang pernah terjadi. [Nadiyah El Karim]

Referensi:

Syaikh Mustafa al-‘Adawi. 2005. Tanya Jawab Masalah Nikah dari A sampai Z. Yogyakarta: Media Hidayah.

Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin. 2010. Shahih Fiqih Wanita. Akbar Media.

Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad dan Ummu Asma’ Dewi Anggun Puspita Sari. www.muslimah.or.id. Lihatlah Siapa Mahrammu.

Muhammad Abduh Tuasikal. www.muslim.or.id. Siapakah Mahram Anda?