Pengertian Nikah Mut’ah

Nikah mut’ah adalah seorang laki-laki menikahi wanita hingga waktu tertentu, jika waktunya telah habis, maka perceraian otomatis terjadi. Nikah mut’ah merupakan perkara yang sudah jelas keharamannya, akan tetapi menurut Syi’ah nikah mut’ah merupakan perkara yang diperbolehkan.

Ibnu Qudamah rahimahullaah berkata, “Arti nikah mut’ah ialah menikahi wanita sementara waktu. Misalnya, seseorang mengatakan, ‘Aku menikahkanmu dengan putriku selama sebulan, setahun, atau hingga berakhirnya musim.’ Ini adalah pernikahan yang batil” (al-Mughni bisy Syarhil Kabiir).

Imam asy-Syafi’i rahimahullaah berkata, “Semua nikah mut’ah adalah terlarang, semua nikah dengan batas waktu, baik pendek, maupun lama. Yaitu, seseorang berkata kepada wanita, ‘Aku menikahimu sehari, sepuluh hari, atau sebulan.’” Kemudian beliau melanjutkan, “Demikian pula nikah hingga waktu tertentu atau tidak diketahui, maka pernikahannya dianggap tidak sah” (al-Umm).

 

Dalil-Dalil tentang Haramnya Nikah Mut’ah

Pada awal perkembangan Islam, nikah mut’ah pernah dihalalkan dalam Islam, akan tetapi setelah itu hukum halalnya nikah mut’ah dihapus dan diganti menjadi haram. Sebagaimana terdapat dalam banyak hadits Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam di antaranya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhu, beliau mengatakan:

“Mut’ah pada awal Islam ialah mut’ah wanita. Seseorang datang di suatu negeri dengan membawa dagangannya, sedangkan dia tidak mempunyai seseorang yang bisa menjaganya dan mengumpulkan barang perniagaannya kepadanya, lalu dia menikahi seorang wanita hingga waktu yang diperlukannya untuk menyelesaikan hajatnya. Kala itu ayat al-Qur’an yang dibaca dan berlaku adalah firman Allah (yang artinya):

Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna) (QS. an-Nisaa’: 24).

Hingga turun ayat (yang artinya):

Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina…’ (QS. an-Nisaa’: 23-24).

Kemudian mut’ah ditinggalkan, dan ditetapkan nikah permanen. Jika mau, dia boleh menceraikannya, dan jika suka, dia tetap menjadikannya sebagai istri. Keduanya saling mewarisi, dan keduanya tidak mempunyai wewenang apa pun dalam perkara itu” (HR. at-Tirmidzi dan Abu Dawud).

Imam Bukhari meriwayatkan dari sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu, “Nabi shallaallaahu ‘alaihi wa sallam melarang menikahi wanita dengan nikah mut’ah dan makan daging keledai piaraan pada waktu perang Khaibar” (HR. Bukhari).

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari ar-Rabi’ bin Saburah, ayahnya menceritakan kepadanya bahwa Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Wahai manusia, sesungguhnya dahulu aku memperbolehkan nikah mut’ah bagi kalian, dan sesungguhnya Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat. Barangsiapa yang memiliki sesuatu dari wanita (yang dinikahi secara mut’ah), maka hendaklah ia menceraikannya dan janganlah kalian mengambil sesuatu yang telah kalian berikan kepadanya sedikit pun” (HR. Muslim).

Al-Khathabi rahimahullaah menyatakan, “Pengharaman nikah mut’ah menjadi ijma’ di kalangan umat Islam. Pernikahan ini pernah dibolehkan di awal-awal Islam, kemudian Allah mengharamkannya…. Tidak ada lagi perselisihan tentangnya pada hari ini di antara umat Islam, kecuali pendapat kaum Syi’ah Rafidhah (yang memperbolehkannya)” (‘Aunul Ma‘buud).

 

Nikah Mut’ah Menurut Syi’ah

Nikah mut’ah menurut Syia’ah merupakan perkara yang diperbolehkan dan bahkan dianjurkan karena dianggap memiliki berbagai keutamaan. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang dibuat-buat oleh orang Syi’ah yang menyebutkan bahwa Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang melakukan nikah mut’ah sekali maka dia memiliki derajat yang sama dengan al-Husain ‘alaihissalaam, barangsiapa yang melakukan mut’ah sebanyak dua kali maka dia memiliki derajat yang sama dengan al-Hasan ‘alaihissalaam, barangsiapa yang melakukan mut’ah sebanyak tiga kali maka dia akan memilki derajat seperti ‘Ali bin Abi Thalib ‘alaihissalaam, dan barangsiapa yang melakukan mut’ah sebanyak empat kali maka dia akan memiliki derajat seperti derajatku” (Tafsiir Manhajus Shaadiqiin, Fathullaah Kaasyaanii).

Dari ash-Shaadiq dia berkata, “Tidaklah seorang laki-laki melakukan nikah mut’ah kemudian dia mandi kecuali Allah akan menciptakan untuknya 70 malaikat dari setiap tetesan air yang menetes dari tubuhnya sehingga (malaikat tersebut) akan memintakan ampun untuk dirinya sampai hari kiamat dan melaknat orang yang menjauhinya hingga tibanya hari kiamat” (Muntahaa al-Aamaal).

Dari Zurarah, bahwa dia bertanya pada Abu Ja’far, “’Seorang laki-laki nikah mut’ah dengan seorang wanita dan habis masa mut’ahnya lalu dia dinikahi oleh orang lain hingga selesai masa mut’ahnya, lalu nikah mut’ah lagi dengan laki-laki yang pertama hingga selesai masa mut’ahnya tiga kali dan nikah mut’ah lagi dengan 3 laki-laki apakah masih boleh menikah dengan laki-laki pertama?’

Jawab Abu Ja’far, ‘Ya dibolehkan menikah mut’ah berapa kali sekehendaknya, karena wanita ini bukan seperti wanita merdeka, wanita mut’ah adalah wanita sewaan, seperti budak sahaya.’” (al-Kafi, Jilid 5, Hal. 460).

Saudariku, sungguh perkataan-perkatan tersebut adalah kedustaan atas nama Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam. Seandainya kita mau sedikit berpikir, sungguh kita akan menemukan keanehan dalam hal ini. Sebab, bagaimana mungkin Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan perbuatan zina?

 

Bahaya Mut’ah

Saudariku yang semoga dirahmati Allah… telah kita ketahui bahwa mut’ah adalah pernikahan yang tanpa batas dan telah menodai syari’at Islam yang mulia. Syari’at Islam merupakan syari’at yang sangat menjunjung tinggi kehormatan wanita. Maka, seandainya kita mau berpikir tentu akal kita tidak akan mampu menerima jika mut’ah merupakan bagian ajaran Islam, karena telah kita ketahui bahwa dalam nikah mut’ah orang Syi’ah, wanita tidak lain seperti barang yang dapat disewakan.

Begitu banyak kisah duka yang ditimbulkan karena sebab nikah mut’ah. Di antaranya adalah yang dikisahkan oleh Sayyid Husain al-Musawi. Beliau menceritakan:

Seorang wanita datang kepada saya menanyakan tentang peristiwa yang terjadi terhadap dirinya. Dia menceritakan bahwa seorang tokoh, yaitu Sayid Husain Shadr pernah nikah mut’ah dengannya dua puluh tahun yang lalu, lalu dia hamil dari pernikahan tersebut. Setelah puas, dia menceraikan wanita tersebut. Setelah berlalu beberapa waktu wanita itu dikarunia seorang anak perempuan. Dia bersumpah bahwa dia hamil dari hasil hubungannya dengan Sayid Shadr, karena pada saat itu tidak ada yang nikah mut’ah dengannya kecuali Sayid Shadr.

Setelah si anak perempuan dewasa, dia menjadi seorang gadis yang cantik dan siap untuk menikah. Namun sang ibu mendapati bahwa anaknya itu telah hamil. Ketika ditanyakan tentang kehamilannya, si anak mengatakan bahwa Sayid Shadr telah melakukan mut’ah dengannya dan dia hamil akibat mut’ah tersebut. Sang ibu tercengang dan hilang kendali dirinya, lalu berkata kepada anaknya bahwa Sayid Shadr adalah ayahnya. Lalu sang ibu menceritakan selengkapnya mengenai pernikahannya dengan Sayid Shadr dan bagaimana bisa hari ini Sayid Shadr menikah dengan anaknya sekaligus anak Sayid Shadr juga?!

Kemudian dia datang kepadaku menjelaskan tentang sikap tokoh tersebut terhadap dirinya dan anak yang lahir darinya. Sesungguhnya kejadian seperti ini sering terjadi. Salah seorang dari mereka melakukan mut’ah dengan seorang gadis, yang di kemudian hari diketahui bahwa dia itu adalah saudarinya dari hasil nikah mut’ah. Sebagaimana mereka juga ada yang melakukan nikah mut’ah dengan istri bapaknya.

Di Iran (negara pusat agama Syi’ah) kejadian seperti ini tak terhitung jumlahnya. Kami membandingkan kejadian ini dengan firman Allah Ta‘aalaa (yang artinya), “Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (diri)nya sehingga Allah mampukan mereka dengan karunia-Nya” (QS. an-Nuur: 33).

Kalaulah mut’ah dihalalkan, niscaya Allah tidak akan memerintahkan untuk menjaga kesucian dan menunggu sampai tiba waktu dimudahkan baginya untuk urusan pernikahan, tetapi Dia akan menganjurkan untuk melakukan mut’ah demi memenuhi kebutuhan biologisnya yang terus-menerus diliputi dan dibakar oleh api syahwat.

Saudariku yang semoga dirahmati Allah… itulah sedikit gambaran mengenai praktik nikah mut’ah dalam agama Syi’ah. Seandainya kita mau sedikit berpikir, sungguh kita akan melihat bahwa nikah mut’ah tidaklah berbeda dengan pelacuran. Seandainya kita mau sedikit berpikir, maka kita akan sadar bahwa tidak mungkin syari’at Islam memerintahkan perbuatan zina, yang jelas-jelas merupakan dosa besar.

Sungguh masih begitu banyak hal yang belum tercantum dalam tulisan singkat ini. Akan tetapi, semoga yang sedikit ini dapat memberikan manfaat untuk penulis dan orang-orang yang membacanya.

 

Referensi:

Abu Hafsh Usamah bin Kamal bin ‘Abdir Razzaq. Panduan Lengkap Nikah dari “A” sampai “Z”. Pustaka Ibnu Katsir.

Nashir bin Abdillah bin ‘Ali al-Qafazi. Ushul Madzhabi asy-Syi’ah al-Imaamiyyah al-Itsnaa ‘Asyariyyah ‘Ardhun wa Naqdun. Maktabah Syamilah.

Sayyid Husain al-Musawi. Mengapa Saya Keluar dari Syi’ah. Pustaka Al Kautsar.

http://www.konsultasisyariah.com/nikah-mutah-ajaran-syiah/.

 

***

Penulis: Wakhidatul Latifah

Artikel Buletin Zuhairoh