Bismillaahirrahmaanirrahiim…

Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin… Syukur senantiasa kita panjatkan kepada Allah Ta‘aalaa atas limpahan kasih sayangNya kepada kita yang begitu besar, hingga diibaratkan seluruh lautan menjadi tinta dan ranting-ranting pohon menjadi pena, serta dedaunan yang menjadi kertasnya tak akan mampu menuliskan semua nikmat Allah kepada kita.

Saudariku yang kucintai, cobaan terbesar bagi seorang wanita yang terpampang jelas di lingkungan kampus adalah perihal bercampur baurnya laki-laki dan wanita (ikhtilaath) yang tidak bisa kita pungkiri. Hal itu tak bisa kita hindari, namun dapat kita minimalkan seminimal mungkin, kita atur sesuai kebutuhan seperlunya.

Kita tahu, sudah menjadi sunnatullaah bahwa lelaki itu mudah tergoda oleh wanita. Rasulullah shallaallaahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Aku tidak meninggalkan sesudahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki melebihi bahayanya para wanita” (HR. Bukhari dan Muslim).

Sehingga sudah sepatutnya bagi para wanita untuk memperhatikan beberapa hal penting dalam penjagaan langkahnya di luar rumah demi menjaga diri dan masyarakatnya, yakni:

 

Rajin Menundukkan Pandangan

Seringnya memandang lawan jenis dengan pandangan penuh syahwat, merupakan panah setan yang paling mudah mengantarkan pada maksiat yang lebih parah.

Allah Ta‘aalaa berfirman (yang artinya), “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’. Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya.” (QS. an-Nuur: 30-31).

Allah Ta‘aalaa juga menerangkan bahwa setiap insan akan ditanya apa saja yang telah ia lihat, sebagaimana terdapat dalam firman Allah (yang artinya): “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. al-Israa’: 36).

 

Menjauhi Campur Baur (Ikhtilaath) yang Diharamkan

Di antara dalil yang menunjukkan haramnya ikhtilaath (campur baur antara laki-laki dan perempuan) adalah hadits-hadits berikut.

Janganlah kalian berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahramnya) karena setan adalah orang ketiganya, maka barangsiapa yang bangga dengan kebaikannya dan sedih dengan keburukannya maka dia adalah seorang yang mukmin” (HR. Ahmad 1/18. Syaikh Syu’aib al-Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih, para perawinya tsiqah -terpercaya- sesuai syarat Bukhari-Muslim).

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ketahuilah, seorang laki-laki bukan mahram tidak boleh bermalam di rumah perempuan janda, kecuali jika dia telah menikah, atau ada mahramnya” (HR. Muslim no. 2171).

 

Hendaklah Wanita Berhias Diri dengan Sifat Malu

Rasa malu disebut bagian dari iman karena malu menjadi pengendali bagi seorang muslim untuk senantiasa berada dalam kebaikan dan berpaling dari segala keburukan atau maksiat. Sebagaimana halnya dengan iman yang senantiasa mendorong seorang mukmin untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan.

Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Malu itu tidak mendatangkan sesuatu melainkan kebaikan” (HR. Bukhari & Muslim).

Rasulullah Muhammad shallaallaahu’alaihi wasallam merupakan teladan bagi setiap muslim. Beliau adalah sosok pribadi yang sangat pemalu.

Dari Abu Said al-Khudri radhiyallaahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wasallam itu lebih merasa malu daripada seorang gadis yang ada dalam ruang pingitannya. Maka apabila beliau melihat sesuatu yang tidak beliau sukai kami mengetahuinya pada wajahnya” (HR. Bukhari-Muslim).

Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya” [HR. Hakim (I/22) dan selainnya, shahih].

 

Wanita Hendaknya Meninggalkan Tabarruj (Berhias Ala Jahiliyyah)

Inilah yang diperintahkan bagi wanita muslimah. Allah Ta‘aalaa berfirman (yang artinya), “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama” (QS. al-Ahzaab: 33).

Abu ‘Ubaidah mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan kecantikan dirinya.” Az-Zujaj mengatakan, “Tabarruj adalah menampakkan perhiasaan dan setiap hal yang dapat mendorong syahwat (godaan) bagi kaum pria.”[3]

Di antara tabarruj yang hendaknya ditinggalkan adalah memakai harum-haruman ketika keluar rumah. Dari Abu Musa al-Asy’ari, Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seorang wanita memakai wewangian, lalu keluar menjumpai orang-orang hingga mereka mencium wanginya, maka wanita itu adalah wanita pezina” (HR. Ahmad 4/413, shahih).

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, mengajak orang lain untuk tidak taat, dirinya sendiri jauh dari ketaatan, kepalanya seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian” (HR. Muslim no. 2128).

 

Berhijab Sempurna di Hadapan Pria

Sebagaimana yang Allah Ta‘aalaa firmankan (artinya),

Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri- istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka” (QS. al-Ahzaab: 53).

Ditambah lagi dengan sabda Nabi shallaallaahu ‘alaihi wa sallam dari ‘Abdullah bin Mas’ud, “Wanita itu adalah aurat. Jika dia keluar maka setan akan memperindahnya di mata laki-laki” (HR. Tirmidzi no. 1173, shahih).

 

Menghindari Jabat Tangan dengan Lawan Jenis (Yang Bukan Mahram)

Dari Ma’qil bin Yasar, Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Lebih baik kepala kalian ditusuk dengan jarum dari besi daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” (HR. ath-Thabrani, shahih).

 

Hendaknya Wanita Meninggalkan Tutur Kata yang Mendayu-Dayu

Allah Ta‘aalaa berfirman (yang artinya),

Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik” (QS. al-Ahzaab: 32).

Yang dimaksudkan “janganlah kamu tunduk dalam berbicara”, as-Sudi mengatakan, “Janganlah wanita mendayu-dayukan kata-katanya ketika berbicara dengan kaum pria.”[2]

Wallaahu Musta’an.

 

 

Referensi:

[1] Lihat Taysir Ilmi Ushul Fiqh, Abdullah bin Yusuf al-Juda’i, hal. 41, Muassasah ar-Rayan.

[2] Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Ibnu Katsir, 6/409, Dar Thayibah, cetakan kedua, 1420 H.

[3] Zaadul Masiir, Ibnul Jauzi, 5/133, Mawqi’ al-Islam.

9 Kiat Agar Tidak Terjerumus dalam Kelamnya Zina (1). muslim.or.id.

Malu Mendatangkan Kebaikan (Bagian 1). muslimah.or.id.

 

Penulis: Nurhidayati, S.Pd.

Artikel Buletin Zuhairoh