Subhānallāhil azhīm wa bihamdihi..

Subhānallāhil azhīm wa bihamdihi..

Subhānallāhil azhīm wa bihamdihi..

Lafazh ini boleh engkau baca sepuluh kali, dua puluh kali, seratus kali, atau berapa pun. Bahkan jika kau baca lebih banyak lagi maka engkau telah berinvestasi di surga. Apa buktinya? Mari kita tengok hadits dari Nabi kita yang mulia shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Beliau bersabda,  “Barangsiapa yang mengucapkan ‘subhānallāhil azhīm wa bihamdihi’ maka akan ditanamkan untuknya satu pohon kurma di surga,” (HR.Tirmidzi, dishahihkan oleh Syaikh  Al-Albani).

Sungguh dzikir  ini sangat ringan diucapkan namun sangat besar balasan dari Allah bagi yang  mengamalkan. Semakin banyak diucapkan maka semakin banyak pula pohon kurma yang Allah tanamkan untuk kita di surga nanti. Maha suci Allah Yang Maha Agung dan segala puji bagi-Nya.

Hakekat Pujian kepada Allah

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullāh di dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa makna pujian (al-hamdu) adalah sifat yang terpuji dan sempurna yang disertai rasa cinta dan pengagungan, yang kesempurnaan tersebut ada di pada dzat, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan Allah. Oleh karena itu dalam memuji Allah harus mengkaitkan antara rasa cinta dan pengagungan.

Sebagian ahlul ‘ilmi menjelaskan, jika seseorang memuji Allah yaitu menyifati Allah dengan kesempurnaan dzat, sifat-sifat, dan perbuatan-perbuatan Allah, namun tanpa ada rasa cinta dan pengagungan, maka hal ini tidak disebut dengan pujian (al-hamdu) namun disebut dengan al-madhu. Sebagaimana jika diantara kita ada yang tidak mencintai orang yang dipujinya, namun ia ingin memperoleh sesuatu dari orang yang dipuji tersebut. Dahulu, sebagian ahli syair berdiri dihadapan seorang Raja dan memuji-mujinya dengan sifat-sifatnya yang agung namun tidak ada rasa cinta dan pengagungan sedikitpun di hati mereka. Kenapa seperti itu? Karena mereka hanya ingin mendapatkan harta dari raja tersebut atau karena takut terhadapnya.

Oleh karenanya, lebih-lebih terhadap Rabb semesta alam yang menciptakannya dengan kesempurnaan-Nya, sungguh  tak pantas kita pelit, malas, atau bahkan lupa untuk memuji-Nya disetiap hembusan nafas kita.

Coba bayangkan jika kita harus membayar udara yang kita setiap detik kita hirup, cahaya matahari yang menyinari, tanah yang kita pijak, tetumbuhan yang hijau, dan banyak nikmat-nikmat yang lain. Sanggupkah kita untuk membayarnya? Tentu tidak. Sungguh Allah berikan itu semua secara gratis, wahai saudariku! Sekali lagi, pujilah Rabbmu dengan pujian yang sempurna dan penuh cinta dan pengagungan.

Keagungan Dzikir

Dzikir adalah amalan paling ringan namun juga paling utama. Itu karena dzikir diucapkan dengan lisan, yang mana gerakan lisan adalah gerakan paling ringan dan mudah daripada gerakan anggota badan yang lain. Ibnul Qayyim mengatakan, “Jika anggota lain digerakkan sebanyak lisan bergerak, maka akan terjadi kelelahan yang luar biasa.”

Allah Ta’āla berfirman (artinya), “Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, bersyukurlah kepada-Ku, dan jangan kamu mengingkari nikmat-Ku.” (Al-Baqarah:152). Dalam kitab tafsir Syaikh As-Sa’di dijelaskan bahwa dzikir pada Allah yang paling utama adalah apa yang membekas didalam hati dan lisan, membuahkan rasa untuk lebih mengenal Allah, dan mencintai-Nya serta memperoleh banyak pahala.

Dzikir adalah puncaknya syukur. Oleh karena itu, Allah sebutkan perintah “Ingatlah kamu kepada-Ku” baru kemudian ayat selanjutnya “bersyukurlah kepada-Ku”. Syukur kepada Allah pun bisa dengan hati, lisan, dan anggota badan. Dengan hati yaitu menetapkan bahwa itu sebuah nikmat dan mengakui nikmat tersebut dari Allah. Adapun dengan lisan yaitu dengan berdzikir dan memuji Alllah. Bersyukur dengan anggota badan yaitu menaati Allah, tunduk pada perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Dengan bersyukur akan membuat nikmat itu tetap ada dan Allah tambahkan dengan nikmat-nikmat lainnya.

Lalai Berdzikir  = Hati semakin Berkarat

Ibnul Qayyim berkata , “Sebab karatnya hati ada dua yaitu ghaflah (lalai) dan dzanbun (dosa). Cara membersihkannya adalah dengan dua hal, istighfar untuk membersihkan dosanya dan dzikir untuk membersihkan kelalaiannya.”

Bukti hati berkarat adalah ketika seseorang melihat suatu hal itu dengan terbalik. Sesuatu yang baik dinilai buruk dan sesuatu yang buruk dinilai baik. Ketika karat telah bertumpuk di dalam hati, maka hati menjadi gelap dan tidak akan nampak jelas bentuk dari segala sesuatu dalam keadaan sebenarnya. Hati akan ditunggangi oleh raan. Seperti firman Allah dalam surat Al-Mutaffifin ayat 14 (artinya), “Bahkan apa yang telah mereka kerjakan itu menutupi hati mereka”. Ketika raan itu telah menutupi hati seseorang, maka pemikirannya akan rusak dan pemahamannya pun juga rusak, ia tidak akan menerima kebenaran dan tidak mengingkari kebatilan.

Ibnu Taimiyyah pun mengatakan, “Dzikir untuk hati bagaikan air untuk ikan, maka bagaimanakah keadaan ikan yang jauh dari air?” Sungguh mustahil saudariku, hati ini bisa hidup tanpa banyak berdzikir pada Allah. Oleh karenanya masihkah diantara kita  enggan untuk memperbanyak dzikir pada-Nya? Di sela-sela kesibukan kita dengan dunia, ketika mengantri di sebuah antrian belanja, di bank, menunggu bus atau kereta, menunggu dosen di kelas, atau di tempat-tempat lainnya? Wahai saudariku.. alasan apa lagi yang memberatkan lisan kita untuk berdzikir pada Allah?

Pujian kepada manusia

Saudariku, tentu pernah diantara kita mendapatkan pujian, yang terkadang pujian itu berlebihan dan membuat hati melayang dan terlena. Padahal apakah pujian tersebut sesuai dengan kondisi kita? Mari kita teladani  sosok sahabat terbaik sepeninggal Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam yaitu Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhu ketika beliau mendapatkan pujian dihadapan beliau.  Apa yang beliau katakan? Beliau berdo’a,

اللهم أَنْتَ أَعلَمُ مِنِّيْ بِنَفْسِيْ وَ أَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِيْ مِنْهُمْ . اللهُمَّ اجْعَلْنِيْ خَيْرًا مِنْ مَا يظنون واغفرلي ما لا يعلمون ولا تؤاخذني بما يقولون

“Allāhumma anta a’lamu minnī bi nafsī, wa ana a’lamu bi nafsī minhum. Allāhummaj‘alnī khayran min mā yazhunnūna, waghfirlī mā lā ya’lamūna, wa lā tu`akhidznī bimā yaqūlūn.”

Artinya, “Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka,” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4/228, no.4876.Lihat Jāmi’ Al-Ahādits, Jalaluddin As-Suyuthi, 25/145, Asy-Syamilah).

Lihatlah saudariku, orang mulia seperti Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallāhu ‘anhu saja tidak merasa senang ketika dipuji. Bagaimanakah dengan kita, pantaskah untuk tersanjung atas pujian-pujian yang menghampiri?

Hati-hati terhadap pujian

Saudariku, hendaklah kita jauhkan rasa bangga diri ketika pujian-pujian menghampiri. Kenapa? Ketahuilah, bahwa generasi pendahulu kita justru tidak senang ketika dipuji, bahkan marah dan mengingkari pujian tersebut. Hal itu dikarenakan pujian itu bisa meruntuhkan atau menghapuskan  amalan seseorang.

Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa amalan bisa terhapus karena dua sebab yaitu riya’ dan ‘ujub (sombong). Dikarenakan ketika riya’, ia tidak merealisasikan ayat dalam surat Al-Fatihah, yaitu“Iyyāka na’budu” (Hanya kepada-Mulah aku beribadah), sehingga ia  beribadah kepada selain Allah. Sedangkan ketika ‘ujub ia tidak merealisasikan ayat “Iyāka nasta’īn” (Hanya kepada-Mu aku meminta pertolongan) yaitu ia merasa dirinyalah yang berbuat dan memperoleh keberhasilan atas kerja kerasnya sendiridan merasa semua itubukan atas taufiq dan pertolongan Allah. Dua hal inilah yang bisa menghapuskan amalan seseorang.

Ketika harus Memuji Orang Lain

Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Kalau salah seorang diantara kalian terpaksa memuji temannya, hendaklah ia mengucapkan, “Saya kira si Fulan (nama orang yang dipuji) begini dan begitu, namun hanya Allah yang mengetahuinya. Aku tidak dapat menganggap suci seorang di hadapan Allah.”

Teladan Salaf ketika Dipuji

Sebuah kisah dari Hammam Ibn Harits, ia bercerita bahwa seseorang pernah memuji Utsman Bin ‘Affan radhiyallāhu ‘anhu. Kemudian orang tersebut didatangi oleh Miqdad (salah satu sahabat Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam) yang ketika itu ia duduk di tempat  terjadinya pujian. Miqdad pun duduk di atas dua lututnya dan melempar batu-batu kerikil dan pasir ke wajah orang tersebut. Lalu Utsman bin ‘Affan radhiyallāhu ‘anhu berkata, “Wahai Miqdad,ada apa dengan engkau? Mengapa engkau melempari dia dengan batu-batu kerikil dan pasir? Apa yang menyebabkan engkau melakukan hal itu?” Miqdad pun menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Jika engkau melihat orang-orang yang suka memuji maka lemparkan pasir yang disertai batu-batu kecil ke wajah mereka,”” (HR.Muslim).

Nasihat Cemerlang agar tak Terlena oleh Pujian

Akan ku sampaikan padamu wahai saudariku, sebuah nasihat mulia dari Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafidzahullāhu ta’āla, “Orang yang cerdas adalah orang yang tidak menoleh kepada pujian dari manusia ataupun sanjungan yang berlebihan kepadanya karena ia lebih mengetahui tentang kezhaliman yang dia lakukan pada dirinya sendiri, kekurangan yang ada pada dirinya, dan kelalaian yang dia lakukan pada dirinya dibandingkan orang-orang yang memuji. Oleh karenanya, jangan tinggalkan keyakinan pengetahuan tentang dirinya bahwa pujian itu adalah sangkaan manusia.”

[Fitri Ariyanti]

Referensi :

  1. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. 2003. Tafsir Al-Qur`anul Kariim Juz ‘Amma. Cet. III. Muhammad Daar Ats-Tsurayya li An-Nasyr.
  2. Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di. 2003. Tafsir Karīmi Ar-Rahmān: Surat Al-Baqarah.Cet. I. Daar Ibnu Hazm.
  3. Rekaman Kajian Syarah Hisnul Muslim,Ust. Aris Munandar,M.Pi.
  4. Video Yufid TV“Hati-hati dengan Pujian”,Ust.Abduh Tuasikal,M.Sc.
  5. Video Yufid TV “Pujian yang Melenakan”,Ust.Ahmad Zainuddin,Lc.

 

Artikel Buletin Zuhairoh