Nazhar

Apabila sudah merasa cocok untuk menikah dengan seseorang yang telah menjadi pilihan hatimu, maka sebelum engkau benar-benar menerimanya, lihatlah dirinya. Islam memperbolehkan seorang pelamar melihat wanita yang ingin dinikahinya (nazhar), begitu juga dengan wanita yang dilamar juga diperbolehkan melihat laki-laki yang akan melamarnya.

Sebagaimana yang diceritakan dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang dari kalian ingin melamar seorang wanita maka jika dia mampu untuk memandang pada wanita tersebut apa yang mendorongnya untuk menikahi sang wanita maka hendaknya ia lakukan” (HR. Ahmad). Hadits ini menunjukkan diperbolehkannya seorang laki-laki melihat perempuan yang ingin dinikahinya dan begitu juga sebaliknya. Akan tetapi dengan tetap menjaga kehormatan diri dan kehormatan perempuan tersebut.

 

Khithbah (Meminang)

Khithbah adalah meminta untuk menikahi seorang wanita dengan wasiilah (perantara) yang telah menjadi kebiasaan di suatu daerah, jika wanita itu menyatakan setuju, maka itu hanyalah sebatas janji untuk menikah dan tidak menjadikan perempuan itu halal baginya sampai terjadi akad nikah (‘Abdul ‘Azhim al-Badawi, 2009:330).

Khithbah bukan syarat nikah, khithbah hukumnya sunnah. Pada asalnya melamar itu pada walinya, namun boleh melamar langsung kepada wanita, apabila wanita itu sudah dewasa. Ketika laki-laki ingin menikah, maka hendaklah dia memperhatikan perempuan mana saja yang boleh dilamar.

Ibnu Umar (berkata), “Rasulullah melarang untuk membeli sesuatu yang telah dibeli orang lain, dan melarang melamar seorang perempuan yang telah dilamar oleh orang lain, sampai ia ditinggalkan oleh pelamar yang pertama atau diizinkan oleh pelamar yang pertama.”

 

Bila terlanjur jatuh hati

Jika engkau telah berusaha untuk menjaga pandangan dan hatimu, tetapi Allah menghendaki engkau menerima cobaan itu, maka berpikirlah segera apakah dia adalah orang yang benar-benar pantas untuk engkau jatuh hati kepadanya? Lalu sibukkan hati dan jiwamu kepada hal-hal yang bermanfaat untukmu dan selalu berusaha untuk ikhlas menjalankan ibadah kepada Allah ta’āla.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sungguh, jika hati telah merasakan manisnya ibadah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya, niscaya ia tidak akan menjumpai hal-hal lain yang lebih manis, lebih indah, lebih nikmat dan lebih baik daripada Allah. Manusia tidak akan meninggalkan sesuatu yang dicintainya, melainkan setelah memperoleh kekasih lain yang lebih dicintainya. Atau karena adanya sesuatu yang ditakutinya. Cinta yang buruk akan bisa dihilangkan dengan cinta yang baik. Atau takut terhadap sesuatu yang membahayakannya.”

Apabila itu semua belum bisa menolongmu, maka ingatlah sabda Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa yang mampu untuk menikah, maka menikahlah. Karena itu lebih akan menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, maka berpuasalah karena puasa itu bagaikan kebiri” (HR. Bukhari dan Muslim). Terakhir, iringilah setiap langkahmu dengan doa, istikharah dan tawakal kepada-Nya .

 

Sebelum kuakhiri risalah ini, ingin kusampaikan sebuah kisah indah sahabat Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam yang paling mulia. Sebelum Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, beliau mengirim sebuah pasukan besar sejumlah 700 orang untuk menyerang negara Romawi, yang dipimpin oleh seorang panglima yang masih sangat belia, yaitu Usamah bin Zaid.

Usianya dikala itu kurang lebih baru 19 tahun. Ketika pasukan besar itu sampai di sebuah daerah, terdengar kabar bahwa Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia. Maka berhentilah pasukan itu dan mulailah kaum muslim di sekitar Madinah murtad. Para shahabat menjadi khawatir dan  berkata kepada Abu Bakr, “Wahai Abu Bakr, kembalikan pasukan yang dikirim ke kerajaan Rum (Romawi) itu, apakah mereka diarahkan ke Rum sedang orang-orang Arab di sekitar Madinah telah murtad?”

Maka Abu Bakr radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Demi yang tidak ada sesembahan yang berhak (disembah) selain-Nya, andaikata anjing-anjing telah berlari di kaki-kaki para istri Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam, saya tidak akan menarik suatu pasukan pun yang dikirim oleh Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam dan saya tidak akan melepaskan bendera yang diikat oleh Rasulullah.”

Perhatikanlah saudariku… betapa teguh dan gigihnya Abu Bakr memegang teguh sunnah Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam. Meski dalam keadaan yang sangat genting seperti itu, beliau begitu yakin dengan kemenangan yang akan diraih oleh pasukan kaum mukminin yang telah diutus oleh Rasulullah ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam sendiri.

Maka yang terjadi setelah itu, setiap kali pasukan Usamah bin Zaid melewati suatu suku yang murtad, suku yang murtad itu berkata, “Andaikata mereka itu tidak mempunyai kekuatan, tentu tidak akan keluar pasukan sekuat ini dari mereka. Tetapi kita tunggu sampai mereka bertempur melawan kerajaan Rum.”

Lalu bertempurlah pasukan Usamah bin Zaid menghadapi kerajaan Rum dan pasukan Usamah berhasil mengalahkan dan membunuh mereka. Kemudian kembalilah pasukan Usamah dengan selamat dan orang-orang yang akan murtad itu tadi tetap di atas Islam.

Maka saudariku muslimah… berpegang teguhlah engkau dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, lakukanlah yang terbaik di setiap harimu dan yakinlah, yakinlah bahwa janji Allah atas hamba-Nya adalah benar.

“Wanita-wanita yang keji dalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji, dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik pula…” (QS An-Nuur: 26).

 

Rabbanā ātinā fid-dunyā ḥasanah, wa fil-akhirati ḥasanah, wa qinā ‘ażaban-nār..

Astagfirullaha wa atūbu ilaih..     

 

Penulis: Rinautami Ardi Putri

Artikel Buletin Zuhairoh