Alhamdulillaah washshalawaatu wassalaam ‘ala Rasuulillaah. Segala puji bagi Allah Ta‘aalaa yang telah memberi kenikmatan kepada para hamba-Nya. Sepantasnya bagi seorang hamba untuk senantiasa bersyukur atas apa yang diberikan, meskipun hanya kenikmatan yang dianggap kecil. Karena jika seseorang tidak bisa mensyukuri suatu hal (kenikmatan) yang kecil bagaimana bisa dia mensyukuri hal yang lebih besar?

Allah Ta‘ala berfirman (artinya), Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrohim: 7) Hendaknya kita belajar menjadi hamba yang bersabar dan bersyukur dalam berbagai hal, termasuk pernikahan.

Pernikahan adalah hal yang diinginkan setiap insan untuk menyempurnakan setengah agamanya. Seorang wanita merasa lebih “sempurna” ketika dia telah menikah, memiliki seorang imam, kemudian memiliki generasi penerus. Sebelum menikah, seorang muslimah yang ingin menikah untuk beribadah kepada Allah Ta‘ala tentunya mempersiapkan segala hal yang bekaitan tentang pernikahannya. Hal yang paling utama adalah ilmu.

Setelah menikah beberapa lama, terkadang muncul perbincangan tentang poligami. Sebelum menikah (bagi muslimah yang telah mengalami), mengakui poligami adalah syari’at Islam. Dia yakin bisa jika kelak dia akan dipoligami. Namun, setelah menikah terkadang ada rasa takut jika dipoligami. Karena hati seorang wanita merasa sulit berbagi cinta dengan wanita lain. Lalu, bagaimana seharusnya seorang wanita menyikapi poligami?

 

Menentang  Keras Syari’at Poligami?

Poligami adalah syari’at dan boleh dilakukan oleh hamba-Nya yang bisa adil. Bolehnya poligami juga diperkuat dengan perbuatan Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat radhiyallaahu ’anhum.

Seorang wanita harus menerima syari’at poligami, karena firman Allah Ta‘ala (artinya)Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil[265], maka (kawinilah) seorang saja[266], atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (QS. an-Nisaa’: 3).

Serta syari’at poligami telah dilakukan oleh Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wasallam dan para shahabat radhiyallaahu ’anhum.

Wanita yang menentang keras poligami berarti menentang syari’at Allah. Bukankah seorang hamba harus yakin dan taat terhadap syari’at-Nya? Mari kita mengingat firman Allah  Ta‘aalaa (artinya) “Barangsiapa yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya Allah sangat keras hukumannya” (QS. al-Hasyr: 4).

Syaikh Ahmad Muhammad Syakir berkata, “Anehnya para penentang poligami baik pria maupun wanita, mayoritas mereka tidak mengerti tata cara wudhu dan shalat yang benar, tapi dalam masalah poligami, mereka merasa sebagai ulama besar.”

Perkataan beliau tersebut kiranya cukup menjadi bahan renungan bagi orang-orang yang menentang poligami. Hendaknya wanita lebih dalam dan lebih banyak mempelajari ajaran agama Allah kemudian mengamalkannya, sampai mereka menyadari bahwa sesungguhnya aturan Allah akan membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Dalam kitab fiqih, seorang wanita boleh mengajukan syarat tidak mau dimadu sebelum menikah. Sehingga tergantung pihak laki-laki apakah mau melanjutkan atau tidak. Akan tetapi jika tidak mengajukan syarat demikian dan setelah menikah suami ingin menikah lagi, maka perlu kedewasaan dari kedua belah pihak dalam menyikapi hal tersebut, serta ketaqwaan kepada Allah sehingga ada solusi yang baik bagi kedua belah pihak.

Allah Ta‘aalaa berfirman (artinya), “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” (QS. ath-Thalaaq: 2).

 

Wahai Laki-Laki, Jangan Bermudah-Mudahan dalam Poligami

Syaikh bin Baaz rahimahullaah pernah mengatakan bahwa hukum pernikahan adalah poligami, kecuali yang tidak bisa berbuat adil maka cukup satu saja (memiliki istri). Ada laki-laki yang ingin poligami dan memaksa istrinya mau dimadu dengan dalih bahwa poligami adalah sunnah, tanpa dia mempertimbangkan situasi dan kondisi. Itu hal yang tidak benar.

Hukum poligami adalah sunnah kalau memang orang itu mampu berbuat adil terhadap istri-istrinya. Hal ini didasarkan pada firman Allah (artinya) “Jika kalian takut tidak akan berlaku adil maka nikahilah seorang saja” (QS. an-Nisaa’: 3).

Perlu berpikir ribuan kali jika seorang laki-laki ingin poligami serta diluruskan apa tujuan seorang laki-laki untuk melakukan poligami. Apakah ingin menjaga dirinya, atau hanya ingin memenuhi kebutuhan biologisnya, atau hanya ingin jago-jagoan dan membuktikan kepada kawan-kawannya bahwa ia mampu poligami?

Poligami bukan hanya sekedar memiliki sepasang bunga yang indah. Seorang laki-laki yang ingin memiliki sepasang bunga yang indah berarti harus siap menambah tanggungjawab, keadilan, memberi nafkah, membagi hati, dan lain sebagainya. Jika laki-laki tidak bisa adil terhadap istri-istrinya maka Allah akan mempermalukannya.

Imam Abu Dawud dan lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa memiliki dua orang istri lalu ia lebih cenderung kepada salah satu dari mereka (dalam riwayat Tirmidzi: lalu dia tidak adil di antara keduanya) maka pada hari kiamat kelak ia akan datang dengan kondisi punggung yang miring (dalam riwayat Tirmidzi: salah satu punggungnya jatuh (lebih rendah))”.

Para laki-laki ketahuilah, jika untuk menikahi istri yang pertama syari’at mempertimbangkan kemampuan ekonomi, bagaimana lagi untuk yang kedua, ketiga, dan ke-empat? Mungkin ada yang mengatakan, “Para sahabat radhiyallaahu ’anhum yang miskin saja bisa poligami?” Memang benar… tetapi jika Anda bertaqwa, berusaha, dan bertawakkal sebagaimana para shahabat radhiyallaahu ’anhum maka silakan.

Jadi, seorang laki-laki yang ingin poligami perlu muhaasabah (introspeksi) diri.  Jika laki-laki ingin poligami karena ingin menjaga pandangan atau agar bisa terhindar dari zina, maka itu tujuan yang diperbolehkan. Tidak perlu mengatakan, “Saya poligami bukan karena syahwat, tapi ingin menjalankan sunnah Nabi”. Kalau syahwat tidak punya peran kenapa tidak mencari janda yang tua sekalian? Kan lebih banyak pahalanya serta mencontoh Rasulullah shallaallaahu ‘alaihi wasallam  yang sebagian besar istri beliau sebelum beliau nikahi adalah seorang janda.

Poligami karena tuntutan iman dan ingin menghidupkan sunnah pasti akan diuji Allah apakah benar tujuannya. Allah Ta‘aalaa berfirman (artinya), “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. al-‘Ankabuut: 2).

Poligami dianjurkan kalau memang lelaki itu merasa aman tidak akan terganggu dengan istri-istrinya. Dia tidak akan melalaikan hak Allah pada dirinya lantaran istri-istrinya dan tidak akan tersibukkan mengurus mereka sehingga menghambat peribadahan kepada Allah. Islam dibangun dengan menimbang antara maslahat dan mudharat. Karenanya, perlu persiapan matang dan lama untuk berpoligami. Perlu menimbang-nimbang, apakah setelah poligami akan lebih banyak memperoleh kemaslahatan ataukah akan banyak mudharat yang ditimbulkan.

Suksesnya poligami sangat terkait dengan peran dan sikap istri pertama, maka butuh waktu dan kesabaran mendidik istri pertama agar mudah menerima dan bisa diajak kerja sama dalam menjalankan syari’at poligami. Sukur-sukur (lebih bagus_red) istri pertama yang mencarikan istri kedua bagi suaminya. Meskipun syari’at memang tidak mensyaratkan meminta izin istri untuk poligami, tapi hendaknya sebagai suami harus memiliki sikap bijaksana, menjaga hati istri, serta bergaul dengan baik terhadap istri.

Poligami merupakan amalan shalih. Maka, bisa jadi seseorang riya’ dengan “memamerkan” poligaminya. Hendaknya diingat lagi apa tujuan seorang laki-laki untuk poligami, benarkah niatnya, dan sebagainya. Seorang laki-laki yang benar-benar mampu poligami maka berusahalah menjadi pelaku poligami yang sukses sehingga mengharumkan sunnah Nabi, dan janganlah sebaliknya -sebagaimana yang sering terjadi- sehingga memperburuk kesan syari’at poligami.

 

Wanita Hendaknya Ikhlas Ketika Dipoligami

Jika seorang wanita memiliki suami yang shalih dan mampu berbuat adil, kemudian suaminya ingin poligami, maka seorang istri hendaknya ikhlas ketika dipoligami. Seorang istri sebaiknya senantiasa bersyukur dan bersabar serta banyak-banyak ingat pahala yang akan diberikan Allah, jika seorang istri taat pada suami. Ketahuilah wahai para istri bahwa:

  1. Poligami adalah syari’at yang Allah pilihkan pada umat Islam untuk kemaslahatan mereka.
  2. Seorang wanita terkadang mengalami sakit, haid, dan nifas. Akan tetapi seorang lelaki selalu siap untuk menjadi penyebab bertambahnya umat ini. Dengan adanya syari’at poligami ini, tentunya manfaat ini tidak akan hilang sia-sia (Syaikh Muhammad asy-Syinqithi dalam Adhwaul Bayaan 3/377 dinukil dari Jami’ Ahkaamin Nisaa’ 3/443-3445).
  3. Jumlah lelaki yang lebih sedikit dibanding wanita dan lelaki lebih banyak menghadapi sebab kematian dalam hidupnya. Jika tidak ada syari’at poligami sehingga seorang lelaki hanya diizinkan menikahi seorang wanita, maka akan banyak wanita yang tidak mendapatkan suami. Lalu dikhawatirkan terjerumus dalam perbuatan kotor dan berpaling dari petunjuk al-Qur’an dan Sunnah (Syaikh Muhammad asy-Syinqithi dalam Adhwaul Bayaan 3/377 dinukil dari Jami’ Ahkaamin Nisaa’ 3/443-3445).
  4. Secara umum, seluruh wanita siap menikah sedangkan lelaki banyak yang belum siap menikah karena kefakirannya sehingga lelaki yang siap menikah lebih sedikit dibandingkan dengan wanita (Shahih Fiqh as-Sunnah 3/217).
  5. Syari’at poligami dapat mengangkat derajat seorang wanita yang ditinggal atau dicerai oleh suaminya dan ia tidak memiliki seorang keluarga pun yang dapat menanggungnya. Maka dengan poligami, ada yang bertanggung jawab atas kebutuhannya. Kami tambahkan, betapa banyak manfaat ini telah dirasakan bagi pasangan yang berpoligami, Alhamdulillah.
  6. Poligami merupakan cara efektif menundukkan pandangan, memelihara kehormatan, dan memperbanyak keturunan. Kami tambahkan, betapa telah terbaliknya pandangan banyak orang sekarang ini, banyak wanita yang lebih rela suaminya berbuat zina daripada berpoligami. Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.
  7. Menjaga kaum laki-laki dan wanita dari berbagai keburukan dan penyimpangan.
  8. Memperbanyak jumlah kaum muslimin sehingga memiliki sumber daya manusia yang cukup untuk menghadapi musuh-musuhnya ketika berjihad. Kami tambahkan, kaum muslimin dicekoki oleh program Keluarga Berencana atau yang semisalnya agar jumlahnya semakin sedikit. Sementara jika kita lihat, banyak orang-orang kafir yang justru memperbanyak jumlah keturunan mereka.
(Ringkasan dari tulisan Ustadz Kholid Syamhudi yang berjudul “Keindahan Poligami dalam Islam” yang dimuat pada majalah As-Sunnah Edisi 12/X/1428 H)
Wanita memang memiliki kecemburuan yang besar dan mengedepankan perasaannya. Hendaknya seorang wanita yang dipoligami senantiasa bertaqwa kepada Allah, mengingat pahala yang akan diterima terhadap amal shalih yang ia kerjakan.

Wallaahu a’lam

***
Referensi:

Fiqh Sunnah Imam Syafi’i, al-Qadhi Abu Syuja bin Ahmad al-Ashfahani, PADI Bandung

Poligami dalam Islam, rekaman ceramah pendek Ustadz Abdullah ZaenMuslim.or.id
Poligami Siapa Berani, rekaman ceramah pendek Ustadz Muhammad Arifin Badri
Tanya Jawab Masalah Nikah dari A sampai Z, Syaikh Musthafa al-‘Adawi, Media Hidayah
Jangan Zalimi Istri, Dr. Najah binti Ahmad Zhihar, Kiswah Media
firanda.com
muslim.or.id
Penulis: Khusnul Rofiana, S.Si.
Artikel Buletin Zuhairoh