Pernahkah kita merenungkan betapa besar jasa kedua orang tua dalam kehidupan kita? Saat ibu mengandung kita, membawa kita ke mana pun ia pergi hingga usia kehamilan sembilan bulan. Ibu pun rela bertaruh nyawa untuk melahirkan kita. Belum selesai sampai di situ, ibu menyusui kita selama dua tahun. Ibu membesarkan kita, sabar mengajari semua hal dalam hidup kita. Begitu pula dengan ayah, dengan sepenuh hati ia mencari nafkah demi mencukupi kebutuhan kita, untuk memenuhi semua permintaan kita. Setelah pulang dari bekerja tetap menyempatkan diri untuk bermain dengan kita. Ayah melarang kita melakukan ini, melakukan itu, harus begini, harus begitu, hingga saat ini. Sadarkah kita bahwa ternyata itu demi kebaikan kita?

Bagaimana sikap kita sekarang saat kita mulai dewasa dan mereka mulai lanjut usia? Kadang kita merasa mereka bawel, manja, menyusahkan, menjengkelkan, dan lain-lain. Tahukah kita bagaimana perasaan mereka saat kita jarang menghubunginya, lupa menanyakan kabarnya, sering menolak permintaannya, dan selalu membantah nasehatnya? Tidakkah itu bisa melukai hati mereka? Bagaimana sebaiknya kita bersikap kepada kedua orang tua kita menurut pandangan Islam? Mari kita simak uraiannya berikut ini.

Pengertian Birrul Walidain

Secara syar’i, birrul walidain adalah berbuat baik kepada kedua orang tua, merendahkan diri di hadapan mereka, berlemah-lembut kepada mereka, menaruh perhatian terhadap kondisi mereka, tidak menyakiti mereka, dan selalu memuliakan kawan mereka sesudah keduanya wafat.

Keutamaan Berbakti kepada Kedua Orang Tua

Berbakti kepada kedua orang tua adalah sebuah nilai luhur yang telah Allah Ta’ālā sejajarkan dengan ketaatan dan peribadatan kepada Allah Ta’ālā. Allah Ta’ālā berfirman, “Beribadahlah kepada Allah dan jangan kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tuamu…” (QS. An-Nisā`: 36).

Keutamaan berbakti kepada kedua orang tua juga telah disampaikan oleh Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, dari Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam beliau bersabda, “Dia celaka! Dia celaka! Dia celaka!” Lalu beliau ditanya, “Siapakah yang celaka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya (dalam usia lanjut), atau salah satu dari keduanya, tetapi dia tidak berusaha masuk surga (dengan berusaha berbakti kepadanya dengan sebaik-baiknya),” (HR. Muslim). Berdasarkan hadits tersebut kita dapat mengambil pelajaran bahwa jika kita berusaha berbakti kepada kedua orang tua kita yang telah berusia lanjut, maka kita dapat meraih surga Allah Ta’ālā lantaran hal tersebut. Abu Darda` radhiyallāhu ‘anhu juga meriwayatkan bahwa ada seseorang yang mendatanginya seraya berkata, “Sungguh aku mempunyai seorang istri dan ibuku menyuruhku untuk menceraikannya.” Abu Darda` berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah (paling baik). Jika engkau mau, sia-siakan saja pintu itu atau engkau akan menjaganya,” (HR. Tirmidzi).

Kita wajib berbuat baik kepada kedua orang tua dalam kondisi apapun meskipun keduanya zhalim. Sebagaimana hadits yang disampaikan Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhu, Tidaklah seorang muslim yang memiliki kedua orang tua yang muslim, setiap hari ia berbuat baik kepada keduanya, kecuali Allah Ta’ālā akan membukakan baginya dua pintu (surga). Kalau orang tua itu tinggal seorang diri, maka satu pintu yang Allah Ta’ālā bukakan. Kalau dia membuat marah salah satu dari keduanya, maka Allah Ta’ālā tidak akan ridha hingga orang tuanya ridha.” Seseorang berkata, “Seandainya kedua orang tuanya zalim?” Ibnu ‘Abbas radhiyallāhu ‘anhu menjawab, “Walaupun orang tuanya zalim.”

Bentuk-bentuk Berbakti kepada Kedua Orang Tua

  1. Berkata lemah lembut kepada keduanya

Ibnu ‘Umar radhiyallāhu ‘anhu berkata, “Dosa besar itu ada sembilan macam, yaitu syirik kepada Allah, membunuh jiwa tanpa kehalalannya, melarikan diri dari pertempuran/jihad, menuduh wanita baik-baik lagi suci telah berzina, memakan riba, memakan harta anak yatim secara zalim,  melakukan pembangkangan di Al-Majidil-Haraam, melakukan sihir, dan membuat kedua orang tua menangis karena kedurhakaan.” Ziyaad berkata, “Thaisalah berkata, “Ketika Ibnu ‘Umar melihat ketakutanku (atas dosa yang aku perbuat), ia berkata, “Apakah engkau khawatir masuk neraka ?”. Aku menjawab, “Benar.” Ia berkata, “Dan engkau ingin masuk ke dalam surga?” Aku menjawab, “Benar.” Ia berkata, “Apakah kedua orang tuamu masih hidup ?” Aku berkata, “Aku masih punya seorang ibu,” Ia berkata, “Demi Allah, apabila engkau melembutkan perkataanmu terhadapnya dan memberi makan kepadanya, niscaya engkau akan masuk surga, selama engkau meninggalkan dosa-dosa besar,” (Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy 8/239-240 no. 9187, shahih).

  1. Merendahkan diri di hadapan keduanya

Hendaknya kita mendahkan diri kita di hadapan mereka berdua dengan cara mendahulukan segala urusan mereka, membentangkan dipan untuk mereka, mempersilahkan mereka duduk di tempat duduk yang empuk, menyodorkan bantal, serta tidak mendahului makan dan minum mereka berdua.

  1. Menyediakan makan dan minum untuk mereka

Menyediakan makan juga termasuk bentuk berbakti kepada kedua orang tua, termasuk jika menyediakan makanan dengan tenaga dan jerih payahnya sendiri. Jadi, sepantasnya diberikan kepada kedua orang tua kita makanan dan minuman terbaik dan lebih didahulukan daripada diri sendiri atau anggota keluarga yang lain.

  1. Senantiasa mendoakan kebaikan untuk keduanya

Sebagai seorang anak yang telah dilahirkan oleh seorang ibu dan telah dinafkahi oleh seorang ayah, hendaknya kita selalu mendoakan kebaikan kepada keduanya, sekalipun keduanya adalah orang-orang yang pernah melakukan kemaksiatan kepada Allah Ta’ālā. Berdoa untuk keduanya dilakukan baik ketika keduanya masih hidup maupun keduanya telah meninggal dunia.

  1. Memberikan nasehat kepada keduanya

Sebagai seorang anak kita wajib mengajak mereka untuk kembali kepada Allah Ta’ālā jika keduanya adalah orang-orang yang belum mendapat hidayah dari Allah Ta’ālā.

  1. Meringankan beban keduanya

Meringankan beban kedua orang tua dalam artian tidak selalu membuat keduanya repot,  membantu melakukan pekerjaan rumah yang biasa dilakukan oleh ibu atau membantu ayah dalam mencari nafkah yang halal.

  1. Meminta ijin kepada keduanya jika hendak pergi, walaupun perginya untuk berjihad

Hal ini sebagaimana dalam sebuah riwayat bahwa ada seorang laki-laki datang menemui Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku berjihad?”. Beliau balik bertanya, “Apakah kamu masih memiliki kedua orang tua?” Laki-laki tersebut menjawab, “Masih.” Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Berjihadlah (dengan cara berbakti) kepada keduanya,” (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Menanyakan kabar keduanya jika dalam keadaan jauh

Menanyakan kabar jika sedang bepergian atau sedang tidak berada di sisinya adalah salah satu wujud berbakti kepada kedua orang tua. Ini adalah salah satu bentuk bakti yang sering kita remehkan dan kita lupakan. Sebagai seorang anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya, hendaknya kita memberi kabar kepadanya dan menanyakan kabarnya. Dengan demikian, kedua orang tua akan terobati rasa kerinduannya dan akan hilang rasa was-was yang senantiasa menyelimutinya ketika buah hatinya tidak ada di sisinya.

  1. Memberikan harta kepada kedua orang tua menurut jumlah yang mereka inginkan

Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang berkata kepada Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam, “Ayahku ingin mengambil hartaku.” Beliau bersabda, “Kamu dan hartamu milik ayahmu.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Jami’ dalam Shahih Jami’).

  1. Memberi perhatian khusus kepada ibu

Kedudukan ibu dalam Islam lebih didahulukan dari pada kedudukan ayah dalam hal hak mendapat bakti dari sang anak, karena ibu telah memikul beban yang berat ketika harus mengurusi anak-anaknya. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu, beliau berkata, “Seseorang datang kepada Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?” Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Ibumu.” Dan orang tersebut kembali bertanya, “Kemudian siapa lagi?” Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Ibumu.” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Beliau menjawab, “Ibumu.” Orang tersebut bertanya kembali, “Kemudian siapa lagi?” Nabi shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Kemudian ayahmu,” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadits tersebut menunjukkan bahwa perbandingan kedudukan ibu dan ayah adalah tiga banding satu. Maksud lebih mendahulukan bakti kepada ibu adalah lebih bersikap lemah, lembut, berperilaku baik, dan memberikan sikap yang lebih halus daripada ayah. Hal ini apabila keduanya di atas kebenaran.

 

Sebagai seorang anak kita wajib mengajak mereka untuk kembali kepada Allah Ta’ālā jika keduanya adalah orang-orang yang belum mendapat hidayah dari Allah Ta’ālā.

 

oldhand

Hal-hal yang Tidak Boleh Dilakukan kepada Kedua Orang Tua

  1. Berperilaku dan berkata kasar kepada kedua orang tua

Hal ini dapat menyakiti hati keduanya dan bisa memicu kemurkaannya kepada kita. Bahkan Allah Ta’ālā melarang kita berkata “ah” kepada kedua orang tua kita, sebagaimana dalam firman Allah Ta’ālā, “Dan Rabb-mu telah memerintahkanmu supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat kepada kedua orang tuamu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka dengan perkataan yang mulia,” (QS. Al-Isrā`: 23).

  1. Mencela orang tua atau menyebabkan mereka dicela orang lain

Mencela orang tua dan menyebabkan mereka dicela orang lain adalah dosa besar. Rasulullah shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Termasuk dosa besar adalah seseorang mencela kedua orang tuanya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa ada orang yang mencela kedua orang tuanya?” Beliau shallallāhu ‘alayhi wa sallam menjawab, “Ada. Ia mencela ayah orang lain kemudian orang itu membalas mencela orang tuanya. Ia mencela ibu orang lain dan orang lain itu mencela ibunya,” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Kisah Berbakti kepada Kedua Orang Tua yang Terindah

Abu Yazid Al-Bustami bercerita, “Ketika aku berusia 22 tahun, ibuku yang sedang sakit memintaku untuk merawatnya pada suatu malam. Aku segera menemuinya, tangan kiriku aku letakkan di bawah kepala beliau sedang tangan kananku memijat tubuh beliau sambil membaca surat Al-Ikhlas sampai tanganku terasa lumpuh. Aku berkata dalam hati, “Tangan ini milikku, sedangkan hak ibu hanya untuk Allah Ta’ālā. Oleh karena itu,aku kuatkan diriku sampai pagi dan setelah itu tanganku tidak bisa dipakai.” Setelah Abu Yazid meninggal dunia, teman-temannya bermimpi bahwa ia terbang di surga sambil bertasbih. Ketika ia ditanya, “Apa yang membuatmu memperoleh rahmat yang begitu besar dari Allah?” Abu Yazid menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua dan bersabar menghadapi penderitaannya.”

[Romadhoni Umi Utami]

Referensi

Ummi Ijinkan Aku Menangis karya Abu ‘Uyainah As-Sahaby.

Kisah-Kisah Teladan Bakti kepada Ibu Bapak karya Ibrahim bin Abdullah Musa Al Hazimi